Selamat pagi, minggu kedua di 2018. Semoga terus ada perbaikan untuk diri kita menuju masa yang akan datang. Sebuah alasan agar semangat terus berkobar adalah cita-cita dan impian. Artikel yang di ambil dari news.detik.com. Seoul, Januari 2017 ini akan menjadi bulan terakhir bagi John A Prasetio
menjabat sebagai Dubes RI untuk Korea Selatan (Korsel). Setelah 4 tahun
berada di sana, pria kelahiran Semarang ini fasih menuturkan kepada
detikcom tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) hingga perkembangan
kerjasama ekonomi RI-Korsel.
Mengenai TKI, John mengatakan tak ada TKI seberuntung di Korsel. TKI tak dinilai lebih rendah dari tenaga kerja lokal sehingga mendapatkan upah minimum regional (UMR) di sana, hingga fasilitas lain dan bisa menabung.
"Gaji mereka pada tingkatan "UMR" setempat atau kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Dari situ berdasarkan survei kita, rata-rata bisa menabung sekitar Rp 17 juta. Jadi, hitungan kasar saya, potensi remitensinya pada kisaran Rp 7 triliun per-tahun," jelas John.
Mengenai TKI, John mengatakan tak ada TKI seberuntung di Korsel. TKI tak dinilai lebih rendah dari tenaga kerja lokal sehingga mendapatkan upah minimum regional (UMR) di sana, hingga fasilitas lain dan bisa menabung.
"Gaji mereka pada tingkatan "UMR" setempat atau kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Dari situ berdasarkan survei kita, rata-rata bisa menabung sekitar Rp 17 juta. Jadi, hitungan kasar saya, potensi remitensinya pada kisaran Rp 7 triliun per-tahun," jelas John.
Namun, ada beberapa hal yang mengancam berkurangnya kuota TKI di Korsel. Apa saja? Berikut petikan wawancara bagian pertama detikcom dengan Dubes John A Prasetio tentang seluk beluk TKI:
Apa kelebihan TKI di Korea Selatan?
Sepaham saya, tidak ada TKI yang lebih mujur dibandingkan TKI di Negeri Ginseng. Mereka disamakan secara hukum dengan pekerja setempat, baik gaji maupun fasilitas lainnya. Itulah keuntungan pengiriman TKI dalam skema G-to-G. Tidak heran bila TKI di sana terihat gagah dan perlente hehehehe.
Bisa digambarkan fasilitas yang didapatkan?
Gaji mereka pada tingkatan "UMR" setempat atau kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Dari situ berdasarkan survei kita, rata-rata bisa menabung sekitar Rp 17 juta. Jadi, hitungan kasar saya, potensi remitensinya pada kisaran Rp 7 triliun per-tahun.
Memangnya mereka tidak butuh pengeluaran harian sehingga bisa menabung demikian besar?
Meskipun berbeda-beda kualitasnya, namun sesuai dengan kontrak maka TKI kita telah disiapkan tempat tinggal dan makan dua kali sehari. Jadi tidak heran kalau mereka mengantongi uang tabungan cukup besar. Bahkan gadget mereka selalu update dan lebih bagus dari milik saya. Itulah yang membuat mereka terlalu betah di sana.
Bagaimana posisi TKI dibandingkan tenaga Asing lainnya di sana?
Ini yang menarik. Jumlah TKI kita 38 ribuan, atau nomor tiga setelah Vietnam dan Kamboja. Setahun rata-rata datang dan pergi 5.000 TKI yang semua berdasarkan permintaaan perusahaan Korea. Sayangnya tahun ini jumlah permintaan mengalami penurunan sedikit, kisaran 4 persen.
Mengapa tidak naik tapi justru menurun?
Setidaknya terdapat dua hal yang menjadi penyebab. Pertama adalah masih tingginya jumlah illegal workers kita di sana yang tahun lalu masih pada kisaran 5.500, atau turun dari 7.000 dibanding tahun sebelumnya.
Apa kelebihan TKI di Korea Selatan?
Sepaham saya, tidak ada TKI yang lebih mujur dibandingkan TKI di Negeri Ginseng. Mereka disamakan secara hukum dengan pekerja setempat, baik gaji maupun fasilitas lainnya. Itulah keuntungan pengiriman TKI dalam skema G-to-G. Tidak heran bila TKI di sana terihat gagah dan perlente hehehehe.
Bisa digambarkan fasilitas yang didapatkan?
Gaji mereka pada tingkatan "UMR" setempat atau kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Dari situ berdasarkan survei kita, rata-rata bisa menabung sekitar Rp 17 juta. Jadi, hitungan kasar saya, potensi remitensinya pada kisaran Rp 7 triliun per-tahun.
Memangnya mereka tidak butuh pengeluaran harian sehingga bisa menabung demikian besar?
Meskipun berbeda-beda kualitasnya, namun sesuai dengan kontrak maka TKI kita telah disiapkan tempat tinggal dan makan dua kali sehari. Jadi tidak heran kalau mereka mengantongi uang tabungan cukup besar. Bahkan gadget mereka selalu update dan lebih bagus dari milik saya. Itulah yang membuat mereka terlalu betah di sana.
Bagaimana posisi TKI dibandingkan tenaga Asing lainnya di sana?
Ini yang menarik. Jumlah TKI kita 38 ribuan, atau nomor tiga setelah Vietnam dan Kamboja. Setahun rata-rata datang dan pergi 5.000 TKI yang semua berdasarkan permintaaan perusahaan Korea. Sayangnya tahun ini jumlah permintaan mengalami penurunan sedikit, kisaran 4 persen.
Mengapa tidak naik tapi justru menurun?
Setidaknya terdapat dua hal yang menjadi penyebab. Pertama adalah masih tingginya jumlah illegal workers kita di sana yang tahun lalu masih pada kisaran 5.500, atau turun dari 7.000 dibanding tahun sebelumnya.
Kedua, TKI kita sulit meninggalkan zona nyaman di Korea untuk menghadapi
ketidakpastian hidup di Indonesia. Dari punya pendapatan Rp 20 juta
misalnya lalu harus pindah wiraswasta di kampungnya. Perubahan mental
seperti ini tidak semua TKI siap. Di sini yang diperlukan adalah
pemberdayaan dan pendampingan TKI saat pulang kampung oleh pihak
berwenang.
Apa hubungan antara TKI ilegal dengan turunnya permintaan?
Pemerintah Korea memberikan kuota TKI berdasarkan assesment mereka antara lain faktor banyak sedikitnya overstayers. Kalau TKI ilegal kita dianggap tinggi maka turunlah kuota kita. Alhamdulillah tahun 2016 kita mampu menurunkan jumlah TKI ilegal hingga 1.500-an orang. Tahun 2017 ini kita harapkan kuota Indonesia bisa naik kelas lagi. Semoga.
Adakah hal lain yang menyebabkan turunnya kuota TKI kita?
Saya kira ada, yakni soal non teknis lain seperti radikalisme. Tahun ini misalnya, beberapa gelintir TKI kita dideportasi karena dianggap cenderung radikal dengan kesukaannya mengakses situs-situs 'berbahaya'. Ada juga yang ditengarai mengirim uang ke Suriah untuk kelompok radikal. Ini semua pasti akan berimbas pada keengganan pengusaha Korea merekrut TKI. Bahkan akhir-akhir ini ada WNI yang ditengarai terlibat penggunaan dan perdagangan narkoba.
Waduh. Harus ada program deradikalisasi dong?
Harus ada demi menyelamatkan lapangan kerja kita. Dan itu kita kerjasamakan dengan Kemlu maupun BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme-red). Namun yang jelas, kita terus berkomunikasi dengan TKI melalui berbagai media untuk mengingatkan bahaya mengakses situs radikal. Maklumlah, gadget yang canggih dan internet di Korea yang super cepat, membuat mereka mudah tergoda akan hal-hal baru yang selama ini tidak dikenal di kampungnya. Ini tantangan nyata di lapangan.
Jadi, secara umum, apasaran Anda untuk mempertahankan atau meningkatkan lapangan kerja TKI yang demikian bagus di Korea Selatan?
Pertama, persiapan yang baik. Jangan ada yang abal-abal. Jangan memalsukan dokumen apapun termasuk kesehatan. Seleksi dengan super duper ketat.
Kedua, KBRI di Seoul terus mendampingi mereka dengan melakukan perlindungan dan pembinaan melalui berbagai cara. Terakhir, siapkan program pemberdayaan yang tepat dan serius agar mereka siap pulang manakala habis masa kontraknya.
Apa hubungan antara TKI ilegal dengan turunnya permintaan?
Pemerintah Korea memberikan kuota TKI berdasarkan assesment mereka antara lain faktor banyak sedikitnya overstayers. Kalau TKI ilegal kita dianggap tinggi maka turunlah kuota kita. Alhamdulillah tahun 2016 kita mampu menurunkan jumlah TKI ilegal hingga 1.500-an orang. Tahun 2017 ini kita harapkan kuota Indonesia bisa naik kelas lagi. Semoga.
Adakah hal lain yang menyebabkan turunnya kuota TKI kita?
Saya kira ada, yakni soal non teknis lain seperti radikalisme. Tahun ini misalnya, beberapa gelintir TKI kita dideportasi karena dianggap cenderung radikal dengan kesukaannya mengakses situs-situs 'berbahaya'. Ada juga yang ditengarai mengirim uang ke Suriah untuk kelompok radikal. Ini semua pasti akan berimbas pada keengganan pengusaha Korea merekrut TKI. Bahkan akhir-akhir ini ada WNI yang ditengarai terlibat penggunaan dan perdagangan narkoba.
Waduh. Harus ada program deradikalisasi dong?
Harus ada demi menyelamatkan lapangan kerja kita. Dan itu kita kerjasamakan dengan Kemlu maupun BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme-red). Namun yang jelas, kita terus berkomunikasi dengan TKI melalui berbagai media untuk mengingatkan bahaya mengakses situs radikal. Maklumlah, gadget yang canggih dan internet di Korea yang super cepat, membuat mereka mudah tergoda akan hal-hal baru yang selama ini tidak dikenal di kampungnya. Ini tantangan nyata di lapangan.
Jadi, secara umum, apasaran Anda untuk mempertahankan atau meningkatkan lapangan kerja TKI yang demikian bagus di Korea Selatan?
Pertama, persiapan yang baik. Jangan ada yang abal-abal. Jangan memalsukan dokumen apapun termasuk kesehatan. Seleksi dengan super duper ketat.
Kedua, KBRI di Seoul terus mendampingi mereka dengan melakukan perlindungan dan pembinaan melalui berbagai cara. Terakhir, siapkan program pemberdayaan yang tepat dan serius agar mereka siap pulang manakala habis masa kontraknya.


KISAH SUKSES SAYA JADI TKI – Ke Jepang, berkat bantuan Bpk DRS. AGUSDIN SUBIANTORO yang bekerja di BNP2TKI jakarta beliau selaku deputi Bidang penempatan BNP2TKI pusat no hp pribadi beliau 0823-5240-6469
BalasHapusLewat akun istri saya saya ingin berbagi cerita,
kisah cerita saya awal jadi TKI – Ke Jepang, berkat bantuan Bpk DRS AGUSDIN SUBIANTORO yang bekerja di BNP2TKI jakarta beliau selaku DEPUTI BIDANG PENEMPATAN BNP2TKI pusat no hp pribadi beliau 0823-5240-6469
kisah cerita saya awal jadi TKI
Disini saya akan bercerita kisah sukses yang menjadi kenyataan mimpi Beliau.
KEGIATAN SEBELUM MENGIKUTI PROGRAM.
Seperti para pemuda umumnya dan dengan kondisi ekonomi Keluarga saya yang pas-pasan saya ikut merasa prihatin dan menghendaki adanya perubahan ekonomi dalam keluarga saya. Saya lahir di salah satu kampung terpencil di kota surabaya jawa timur, dimana struktur tanah tempat kelahiran dia adalah pegunungan dengan mata pencaharian masyarakat sekitar petani dan beternak. Pengorbanan keluarga yang selama mendidik, membina dan membiayai hidup saya selama ini tak cukup hanya sekedar saya mengikuti jejak orang tua saya menjadi petani, saya harus membuktikan kepada keluarga untuk menjadi yang terbaik, tetapi dimana dan bagaimana? Sisi lain saya tau saya hanya lulusan SLTA sedangkan lowongan pekerjaan hanya diperuntukan bagi lulusan Diploma dan Strata 1.
Pada pertengahan tahun 2016 saya bertemu dengan seorang teman lama di Jalan Raya waru sidoarjo. Dia memperkenalkan saya dengan salah satu pejabat BNP2TKI PUSAT, Beliau adalah KPL DEPUTI BIDANG PENEMPATAN BNP2TKI, DRS. AGUSDIN SUBIANTORO. Alamat BNP2TKI Jalan MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta Selatan 12770.
Saya diberikan No Kontak Hp Beliau, dan saya mencoba menghubungi tepat jam 4 sore, singkat cerita saya'pun menyampaikan maksud tujuan saya, bahwa sudah lama saya mengimpikan bisa bekerja di japang. Beliaupun menyampaikan siap membantu dengan bisa meluluskan dengan beberapa prosedur , saya rasa prosedur itu tidak terlalu membebani saya. Dari sinilah saya menyetujui nya, yang sangat membuat Aku bersyukur adalah bahwa saya diminta melengkapi berkas untuk saya kirim ke kantor beliau dan sayapun disuruh menyiapkan biaya pengurusan murni sebesar Rp. 22.500.000. Inilah puncak kebahagiaan saya yang akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di negeri sakura japang.
Akhirnya saya mendapat panggilan untuk ke jakarta untuk dibinah selama 2 minggu lamanya, saya hanya diajarkan DASAR berbahasa japang. Makna yang terkandung di dalam'nya sangat luar biasa dirasakan oleh saya, tanggung jawab, disiplin, berani dan sebagainya merubah total karakter saya yang dulu cengeng dan kekanak-kanakan, walau kadangkala saya masih belum begitu yakin apakah dia bisa berangkat Ke Jepang dengan baik, akhirnya saya mendapat Contrak kerja selama 3 tahun lamanya di bidang industri.
Rasa pasrah dan khawatir menghinggapi saya saat itu, seorang anak kampung berangkat ke Jepang dengan menggunakan pesawat terbang yang sebelum belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jangankan naik di atas pesawat melihat dari dekatpun saya belum pernah sama sekali.Di Bandara Soekarno Hatta kami di temani oleh petugas Depnakertrans dan IMM Japan untuk melepas keberangkatan saya, rasa haru dan air mata sedih berlinang di pipih saya pada saat saya di izinkan prtugas untuk pamit kepada keluarga yang kebetulan saya diantar oleh paman di jakarta, kami saling berpelukan dan mohon salam dan restu dari orang tua dan keluarga.
MASA MENGIKUTI PROGRAM KEBERANGKATAN DI JEPANG.
Setibanya di NARITA AIRPORT Jepang, saya dijemput oleh petugas IMM Japan yang ada di sana, dan dia diantar ke Training Centre Yatsuka Saitama-ken untuk mengikuti pembekalan sebelum di lepas ke perusahaan penerima magang di Jepang. jika anda ingin seperti saya anda bisa, Hubungi Bpk deputi Bidang pempatan BNP2TKI, DRS. AGUSDIN SUBIANTORO ini No Contak HP pribadi Beliau: 0823-5240-6469 siapa tahu beliau masih bisa membantu anda untuk mewujudkan impian anda menjadi sebuah kenyataan.